MAKALAH
EVALUASI
PENDIDIKAN
“Teknik Penyusunan dan Pelaksanaan Tes Hasil
Belajar”
DISUSUN
OLEH :
DEBI SANITA
JURUSAN
PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS
KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
PUTRA INDONESIA “YPTK”
PADANG
2017
KATA
PENGANTAR
Puji dan
syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan
karunia-Nya,penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Teknik
Penyusunan dan Pelaksanaan TeS Hasil
Belajar”.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas
mata kuliah Evaluasi Pendidikan dan penulis mengucapkan terima kasih kepada ibu
Dosen pembimbing serta kepada semua
pihak yang secara langsung dan tidak
langsung karena telah membantu menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini
masih banyak kekurangan dan kesalahan. Hal ini karena keterbatasan kemampuan
penulis sendiri. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang
sifatnya membangun demi kebaikan untuk ke depannya dari semua pihak khususnya
pembaca.Harapan penulis, semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi para pembaca.
Padang,16
Oktober 2016
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
................................................................................... .
DAFTAR ISI......................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang...............................................................................................
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................
1.3 Tujuan Masalah..............................................................................................
1.2 Rumusan Masalah..........................................................................................
1.3 Tujuan Masalah..............................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Teknik Penyusunan Tes Hasil Belajar................................................................
2.2 Teknik Pelaksanan Tes Hasil Belajar..............................................................
2.1 Teknik Penyusunan Tes Hasil Belajar................................................................
2.2 Teknik Pelaksanan Tes Hasil Belajar..............................................................
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan....................................................................................................
3.2
Daftar Pustaka...............................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Telah kita
ketahui bahwa tes hasil belajar dapat dilakukan dengan berbagai cara tergantung
bagaimana strategi dan metode yang diterapkan oleh guru. Adakalanya guru
menyelenggarakan tes hasil belajar secara tertulis (tes tertulis), ada juga
secara lisan (tes lisan) dan ada juga yang dengan perbuatan (praktik).
Adanya
perbedaan penyelenggaraan tes hasil belajar tersebut, sudah barang tentu
menuntut adanya pembedaan pula dalam pemeriksaan hasil-hasilnya (koreksi) dan
adanya pembedaan pula dalam rangka pemberian skor.
Untuk
mengolah tes hasil belajar, perlu memperhatikan langkah-langkah dan rumus-rumus
yang telah ditetapkan. Agar skor dan nilai yang diperoleh siswa dapat
dipertanggung jawab kan kebenarannya.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana
teknik pemeriksaan hasil tes hasil belajar?
2. Bagaimana
teknik pemberian skor hasil tes hasil belajar?
3. Bagaimana
teknik pengolahan hasil tes hasil belajar?
C.
Tujuan
Pembahasan
1. Untuk
mengetahui bagaimana teknik pemeriksaan hasil tes hasil belajar.
2. Untuk
mengetahui bagaimana teknik pemberian skor hasil tes hasil belajar.
3. Untuk
mengetahui bagaimana teknik pengolahan hasil tes hasil belajar.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Teknik
Pemeriksaan Hasil Tes Hasil Belajar
Tes hasil
belajar dapat diselenggarakan secara tertulis (tes tertulis), secara lisan (tes lisan) dan dengan tes
perbuatan. Adanya perbedaan pelaksanaan tes hasil belajar tersebut menuntut
adanya perbedaan dalam pemeriksaan hasil-hasilnya.
1. Teknik Pemeriksaan Hasil Tes
Tertulis
Tes hasil belajar yang
diselenggarakan secara tertulis dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
tes hasil belajar (tertulis) bentuk uraian (subjective test = essay test) dan
tes hasil belajar (tertulis) bentuk obyektif (objective test). Karena
kedua bentuk tes hasil belajar itu memiliki karakteristik yang berbeda, sudah
barang tentu teknik pemeriksaan hasil-hasilnya pun berbeda pula.[1][1]
a.
Teknik
Pemeriksaan Hasil Tes Bentuk Uraian
Dalam pelaksanaan pemeriksaan hasil
tes uraian ini ada dua hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu: (1) apakah
nantinya pengolahan dan penentuan nilai hasil tes uraian itu akan didasarkan
pada standar mutlak atau: (2) apakah nantinya pengolahan dan penentuan nilai
hasil tes subyektif itu akan didasarkan pada standar relatif.
Apabila nantinya pengolahan dan
penentuan nilai hasil tes uraian itu akan didasarkan pada standar mutlak
(di mana penentuan nilai secara mutlak akan didasarkan pada prestasi
individual), maka prosedur pemeriksaannya adalah sebagai berikut:
1) Membaca
setiap jawaban yang diberikan oleh testee dan membandingkannya dengan pedoman
yang sudah disiapkan.
2) Atas dasar
hasil perbandingan tersebut, tester lalu memberikan skor untuk setiap butir
soal dan menuliskannya di bagian kiri dari jawaban testee tersebut.
3) Menjumlahkan
skor-skor yang telah diberikan.
Adapun apabila nantinya pengolahan
dan penentuan nilai akan didasarkan pada standar relative (di mana penentuan
nilai akan didasarkan pada prestasi kelompok), maka prosedur pemeriksaannya
adalah sebagai berikut:
1) Memeriksa
jawaban atas butir soal nomor 1 yang diberikan oleh seluruh testee, sehingga
diperoleh gambaran secara umum mengenai keseluruhan jawaban yang ada.
2) Memberikan
skor terhadap jawaban soal nomor 1 untuk seluruh testee.
3) Mengulangi
langkah-langkah tersebut untuk soal tes kedua, ketiga, dan seterusnya
4) Setelah
jawaban atas seluruh butir soal yang diberikan oleh seluruh testee dapat
diselesaikan, akhirnya dilakukanlah penjumlahan skor (yang nantinya akan
dijadikan bahan dalam pengolahan dan penentuan nilai.[2][2]
b.
Teknik
Pemeriksaan Hasil Tes Bentuk Obyektif
Memeriksa atau mengoreksi jawaban
atas soal tes objektif pada umumnya dilakukan dengan jalan menggunakan kunci
jawaban, ada beberapa macam kunci jawaban yang dapat dipergunakan untuk
mengoreksi jawaban soal tes objektif, yaitu sebagai berikut :[3][3]
1)
Kunci
berdampingan ( strip keys )
Kunci jawaban berdamping ini terdiri
dari jawaban – jawaban yang benar yang ditulis dalam satu kolom yang lurus dari
atas kebawah, adapun cara menggunakannya adalah dengan meletakan kunci jawaban
tersebut berjajar dengan lembar jawaban yang akan diperiksa, lalu cocokkan,
apabila jawaban yang diberikan oleh teste benar maka diberi tanda ( + ) dan
apabila salah diberi tanda ( - ).
2)
Kunci system
karbon ( carbon system key )
Pada kunci
jawaban system ini teste diminta membubuhkan tanda silang ( X ) pada salah satu
jawaban yang mereka anggap benar kemudian kunci jawaban yang telah dibuat oleh
teste tersebut di letakan di atas lembar jawaban teste yang sudah
ditumpangi karbon kemudian tester memberikan lingkaran pada setiap jawaban yang
benar sehingga ketika diangkat maka, dapat diketahui apabila jawaban teste yang
berada diluar lingkaran berarti salah sedangkan yang berada didalam adalah
benar.
3)
Kunci system
tusukan ( panprick system key )
Pada
dasarnya kunci system tusukan adalah sama dengan kunci system karbon. Letak
perbedaannya ialah pada kunci sistem ini, untuk jawaban yang benar diberi
tusukan dengan paku atau alat penusuk lainnya sementara lembar jawaban testee
berada dibawahnya, sehingga tusukan tadi menembus lembar jawaban yang ada
dibawahnya. Jawaban yang benar akan tekena tusukan dsedangkan yang salah tidak.
4)
Kunci berjendela
( window key )
Prosedur kunci berjendela ini adalah
sebagai berikut :
a)
Ambilah
blanko lembar jawaban yang masih kosong
b)
Pilihan
jawaban yang benar dilubangi sehingga seolah – olah menyerupai jendela
c)
Lembar
jawaban teste diletakan dibawah kunci berjendela
d)
Melalui
lubang tersebut kita dapat membuat garis vertical dengan pencil warna sehingga
jawaban yang terkena pencil warna tersebut berarti benar dan sebaliknya.
2. Teknik Pemeriksaan Hasil Tes Lisan
Pemeriksaan yang dilaksanakan dalam
rangka menilai jawaban – jawaban testee pada tes hasil belajar secara lisan
pada umumnya bersifat subjektif, sebab dalam tes lisan itu tester tidak
berhadapan dengan lembar jawaban soal yang wujudnya adalah benda mati,
melainkan berhadapan dengan individu atau makhluk hidup yang masing – masing
mempunyai ciri dan karakteristik berbeda sehingga memungkinkan bagi tester
untuk bertindak kurang atau bahkan tidak objektif.[4][4]
Dalam hal ini, pemeriksaan terhadap
jawaban testee hendaknya dikendalikan oleh pedoman yang pasti, misalnya sebagai
berikut :
a. Kelengkapan
jawaban yang diberikan oleh testee.
Pernyataan tersebut mengandung makna
“ apakah jawaban yang diberikan oleh testee sudah memenuhi semua unsur yang
seharusnya ada dan sesuai dengan kunci jawanban yang telah disusun oleh tester
b. Kelancaran
testee dalam mengemukakan jawaban
Mencakup apakah dalam memberikan
jawaban lisan atas soal – soal yang diajukan kepada testee itu cukup lancar
sehingga mencerminkan tingkat pemahaman testee terhadap materi pertanyaan yang
diajukan kepadanya
c. Kebenaran
jawaban yang dikemukakan
Jawaban panjang yang dikemukakan
oleh testee secara lancar dihadapan tester, belum tentu merupakan jawaban yang
benar sehingga tester harus benar – benar memperhatikan jawaban testee
tersebut, apakah jawaban testee itu mengandung kadar kebenaran yang tinggi atau
sebaliknya.
d. Kemampuan
testee dalam mempertahankan pendapatnya
Maksudnya, apakah jawaban yang
diberikan dengan penuh kenyakinan akan kebenarannya atau tidak. Jawaban yang
diberikan oleh testee secara ragu – ragu merupakan salah satu indikator bahwa
testee kurang menguasai materi yang diajukan kepadanya.
Demikian seterusnya, penguji dapat
menambahkan unsur lain yang dirasa perlu dijadikan bahan penilaian seperti :
perilaku, kesopanan, kedisiplinan dalam menghadapi penguji (tester).[5][5]
3. Teknik Pemeriksaan Hasil Tes
Perbuatan
Dalam tes perbuatan ini pemeriksaan
hasil-hasil tes nya dilakukan dengan menggunakan observasi (pengamatan).
Sasaran yang perlu diamati adalah tingkah laku, perbuatan, sikap dan lain
sebagainya. Untuk dapat menilai hasil tes tersebut diperlukan adanya instrument
tertentu dan setiap gejala yang muncul diberikan skor tertentu pula.
Contoh: misalkan instrument yang
dipergunakan dalam mengamati calon guru yang melaksanakan praktek mengajar,
aspek-aspek yang diamati meliputi 17 unsur dengan skor minimum 1 (satu) dan
maksimum (lima).[6][6]
B.
Teknik
Pemberian Skor Hasil Tes Hasil Belajar
1.
Penskoran
Penskoran
merupakan langkah pertama dalam proses pengolahan hasil tes. Penskoran adalah
suatu proses pengubahan jawaban-jawaban tes menjadi angka-angka.
Angka-angka
hasil penskoran itu kemudian diubah menjadi nilai-nilai melalui suatu proses
pengolahan tertentu. Penggunaan simbol untuk menyatakan nilai-nilai itu ada
yang dengan angka, seperti angka dengan rentangan 0 – 10, 0 – 100, 0 – 4, dan
ada pula yang dengan huruf A, B, C, D, dan E.[7][7] Cara menskor hasil tes biasanya disesuaikan dengan
bentuk soal-soal tes yang dipergunakan, apakah tes objektif atau tes essay,
atau dengan bentuk lain.
a.
Pemberian
skor untuk tes bentuk benar-salah
Dalam
menentukan angka atau skor untuk tes bentuk benar-salah ini kita dapat
menggunakan 2 cara, yaitu: (1) Tanpa denda, dan (2) Dengan denda.
Tanpa denda
adalah banyaknya angka yang diperoleh siswa sebanyak jawaban yang cocok dengan
kunci. Sedangkan dnegan denda (karena diragukan ada unsur tebakan), digunakan 2
macam rumus:[8][8]
S = R - W
|
Pertama, dengan rumus:
S =
Score
R =
Right
W =
Wrong
Skor yang diperoleh siswa sebanyak
jumlah soal yang benar dikurangi dengan jumlah soal yang salah.
Contoh:
-
Banyaknya
soal = 10 butir
-
Yang betul = 8 butir soal
-
Yang salah = 2 butir soal
Jadi, 8 – 2 = 6
Kedua, dengan
rumus:
S = T – 2W
|
T =
Total, artinya jumlah soal dalam tes
Contoh di atas dihitung: S = 10 – (2 x 2) = 10 – 4 = 6
b.
Pemberian
skor untuk tes bentuk pilihan ganda (multiple choice)
Dengan tes
bentuk pilihan ganda, testee diminta melingkari salah satu huruf di depan
pilihan jawaban yang disediakan atau membubuhkan tanda lingkaran atau tanda
silang (X) pada tempat yang sesuai di lembar jawaban.
Dalam
menentukan skor untuk tes pilihan ganda, dikenal 2 macam cara pula yakni tanpa
denda dan dengan denda. Tanpa denda apabila banyaknya angka dihitung dari
banyaknya jawaban yang cocok dengan kunci jawaban. Sedangkan dengan denda menggunakan
rumus:[9][9]
S = R -
|
S =
Score
W
= Wrong
n =
Banyaknya pilihan jawaban
Contoh:
-
Banyaknya
soal = 10 butir
-
Banyaknya
yang betul = 8 butir soal
-
Banyaknya
yang salah = 2 butir soal
-
Banyaknya
pilihan = 3 butir
Maka skornya adalah: S = 8 - = 8 – 1 = 7
c.
Pemberian
skor untuk tes bentuk jawab singkat (short answer test)
Tes bentuk
jawab singkat adalah bentuk tes yang menghendaki jawaban berbentuk kata atau
kalimat pendek. Maka jawaban untuk tes tersebut tidak boleh berbentuk
kalimat-kalimat panjang, tetapi harus sesingkat mungkin dan mengandung satu
pengertian. Dengan persyaratan inilah maka bentuk tes ini dpaat digolongkan ke
dalam bentuk tes objektif.
Dengan
mengingat jawaban yang hanya satu pengertian saja. Maka angka bagi tiap nomor
soal mudah ditebak. usaha yang dikeluarkan oleh siswa sedikit, tetapi lebih
sulit daripada tes bentuk betul-salah atau pilihan ganda. Dalam tes bentuk ini,
sebaiknya tiap soal diberi angka 2 (dua). Tetapi apabila jawabannya bervariasi
misalnya lengkap sekali, lengkap, dan kurang lengkap, maka angkanya dapat
dibuat bervariasi pula misalnya 2, 1,5, dan 1.[10][10]
d.
Pemberian
skor untuk tes bentuk menjodohkan (matching)
Pada
dasarnya tes bentuk menjodohkan adalah tes bentuk pilihan ganda, dimana
jawaban-jawaban dijadikan satu, demikian pula pertanyaan-pertanyaannya
Karena tes
bentuk menjodohkan adalah tes bentuk pilihan ganda yang lebih kompleks. Maka
angka yang diberikan sebagai imbalan juga harus lebih banyak. Sebagai
ancar-ancar dapat ditentukan bahwa angka untuk tiap nomor adalah 2 (dua).[11][11]
e.
Pemberian
skor untuk tes bentuk uraian
Sebelum
menyusun sebuah tes uraian sebaiknya kita tentukan terlebih dahulu pokok-pokok
jawaban yang kita kehendaki. Dengan demikian, maka akan mempermudah kita dalam
mengoreksi tes itu.
Tidak ada
jawaban yang pasti terhadap tes bentuk uraian ini. Jawaban yang kita peroleh
akan sangat beraneka ragam, beda antara siswa yang satu dengan siswa yang lain.
Langkah-langkah pemberian skornya adalah:
1)
Membaca soal
pertama dari seluruh siswa untuk memperoleh gambaran mengenai lengkap tidaknya
jawaban yang diberikan siswa secara keseluruhan.
2)
Menentukan
angka untuk soal pertama tersebut. Misalnya jika jawabannya lengkap diberi
angka 5, kurang sedikit diberi angka 4, begitu seterusnya.
3)
Mengulangi
langkah-langkah tersebut untuk soal tes kedua, ketiga, dan seterusnya.
4)
Menjumlahkan
angka-angka yang diperoleh oleh masing-masing siswa untuk tes bentuk uraian.
Alternatif kedua untuk pemberian
skor pada tes bentuk uraian adalah dengan menggunakan cara pemberian angka yang
relatif. Misalnya untuk sesuatu nomor soal jawaban yang paling lengkap hanya
mengandung 3 unsur, padahal yang kita kita menghendaki 5 unsur, maka kepada
jawaban yang paling lengkap itulah kita berikan angka 5, sedangkan yang
menjawab hanya 2 atau 1 unsur, kita beri angka lebih sedikit, yaitu misalnya
3,5; 2; 1,5; dan seterusnya.
Apa yang telah diterangkan di atas
ini adalah cara memberikan angka dengan menggunakan atau mendasarkan pada norma
kelompok (norm referenced test). Apabila dalam memberikan angka
menggunakan atau mendasarkan pada standar mutlak (Criterion referenced test),
maka langkah-langkahnya adalah:
1)
Membaca
setiap jawaban yang diberikan oleh siswa dan dibandingkan dengan kunci jawaban
yang telah disusun.
2)
Membubuhkan
skor di sebelah kiri setiap jawaban. Ini dilakukan per nomor soal.
3)
Menjumlahkan
skor-skor yang telah dituliskan pada setiap soal.
Dengan cara ini maka skor yang
diperoleh siswa tidak dibandingkan dnegan jawaban paling lengkap yang diberikan
oleh siswa lain, tetapi dibandingkan dengan jawaban lengkap yang dikehendaki
dan sudah ditentukan oleh guru.[12][12]
Tolak ukur
yang digunakan sebagai ukuran keberhasilan tugas adalah:
1)
Ketepatan
waktu
2)
Bentuk fisik
pengerjaan tugas yang menandkan keseriusan dalam mengerjakan tugas.
3)
Sistematika
yang menunjukkan alur keruntutan pikiran.
4)
Kelengkapan
isi menyangkut ketuntasan penyelesaian dan kepadatan isi.
5)
Mutu hasil
tugas, yaitu kesesuaian hasil dengan garis-garis yang sudah ditentukan oleh
guru.
Dalam
mempertimbangkan nilai akhir perlu dipikirkan peranan masing-masing aspek
kriteria tersebut, misalnya demikian:
- Ketepatan waktu, diberi bobot 2
- Bentu fisik, diberi bobot 1
- Sistematika, diberi bobot 3
- Kelengkapan isi, diberi bobot 3
- Mutu hasil, diberi bobot 3
Maka nilai akhir untuk tugas
tersebut diberikan rumus:
NAT =
NAT adalah Nilai Akhir Tugas
2.
Perbedaan
Skor dan Nilai
Apa yang
terjadi selama ini, banyak di antara para guru yang masih mencampuradukkan
antara dua pengertian, yaitu skor dan nilai.
Skor :
hasil pekerjaan menskor yang diperoleh dengan menjumlahkan angka-angka bagi
setiap soal tes yang dijawab betul oleh siswa, dengan memperhitungkan bobot
jawaban betulnya.[14][14]
Nilai : angka (bisa juga huruf) yang merupakan hasil ubahan dari
skor yang sudah dijadikan satu dengan
skor-skor lainnya, serta dengan menggunakan acuan/standar tertentu, yakni acuan
patokan dan acuan norma.[15][15]
a.
Penilaian
Acuan Patokan (PAP)
Suatu
penilaian disebut PAP jika dalam melakukan penilaian itu mengacu pada suatu
kriteria pencapaian tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya.
Sebagai
contoh, misalkan untuk dapat diterima sebagai calon penerbang di sebuah lembaga
penerbangan, setiap calon harus memenuhi syarat antara lain tinggi badan
sekurang-kurangnya 165 cm dan memiliki tingkat kecerdasan (IQ)
serendah-rendahnya 130. Berdasarkan kriteria atau patokan itu, siapapun calon
yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut dinyatakan gagal dalam tes atau
tidak akan diterima sebagai calon penerbang.[16][16]
b.
Penilaian
Acuan Norma (PAN)
Penilaian
acuan norma adalah penilaian yang dilakukan dengan mengacu pada norma kelompok,
nilai-nilai yang diperoleh siswa diperbandingkan dengan nilai-nilai siswa yang
lain yang termasuk di dalam kelompok itu.
Yang
dimaksud dengan “norma” dalam hal ini adalah kapasitas atau prestasi kelompok,
sedangkan yang dimaksud dengan “kelompok” adalah semua siswa yang mengikuti tes
tersebut. Nilai hasil PAN tidak mencerminkan tingkat kemampuan dan penguasaan
siswa tentang materi pengajaran yang diteskan, tetapi hanya menunjukkan
kedudukan siswa di dalam peringkat kelompoknya.[17][17]
C.
Teknik
Pengolahan Hasil Tes Hasil Belajar
1.
Mengolah
Skor Mentah Menjadi Nilai Huruf
Pengolahan
skor mentah menjadi nilai huruf menggunakan sifat-sifat yang terdapat pada
kurva normal sebagai dasar perhitungan. Adapun ciri-ciri atau sifat-sifat
distribusi normal antara lain adalah seperti berikut:[18][18]
·
Memiliki
jumlah atau kepadatan frekuensi yang tetap pada jarak deviasi-deviasi tertentu
seperti pada gambar:
-2
|
-3
|
-2
|
-1
|
M
|
+1
|
+2
|
+3
|
b.
|
a.
|
-1
|
M
|
+1
|
+2
|
+3
|
-3
|
68,26
|
95,44
|
-3
|
-1
|
M
|
+1
|
+2
|
+3
|
c.
|
-2
|
99,72
|
Dalam gambar tersebut, dapat kita lihat bahwa:
-
(gambar a.)
68,26 persen data/populasi terletak di dalam interval M – 1 DS dan M + 1 DS
-
(gambar b.)
95,44 persen data/populasi terletak di dalam interval M – 2 DS dan M + 2 DS
-
(gambar c.)
99,72 persen data/populasi terletak di dalam interval M – 3 DS dan M + 3 DS
Dengan kata lain. Pada distribusi
normal hampir 100 persen data/populasi terletak pada jarak range -3 DS
dan +3 DS. Itulah sebabnya dalam perhitungan-perhitungan selanjutnya selalu
akan kita lhat penggunaan jarak range -3 DS dan +3 DS.
·
Pada
distribusi normal, mean, median,dan mode berimpit (sama besar),
terletak tepat di tengah kurva dan membagi dua sama besar jarak deviasi antara
-3 DS dan +3 DS.
Berdasarkan sifat-sifat distribusi
normal itulah maka untuk penjabaran skor mentah menjadi nilai huruf
dipergunakan mean dan DS.
a.
Mengolah
Skor Mentah Menjadi Nilai Huruf dengan Menggunakan Mean (M) dan Deviasi Standar
(DS)
Mencari mean
(M) dan Deviasi Standar (DS) dalam rangka mengolah skor mentah menjadi
nilai huruf dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu jika banyaknya skor yang
diolah kurang dari 30, digunakan tabel distribusi frekuensi tunggal. Dan jika
banyaknya skor yang diolah lebih dari 30, misalnya sampai 40 atau 50 skor atau
lebih, sebaiknya digunakan tabel distribusi frekuensi bergolong. Berikut ini
sebuah contoh yang menggunakan tabel distribusi frekuensi tunggal.
Misalkan
seorang guru memperoleh skor mentah dari haisl tes yang telah diberikan kepada
20 orang siswa sebagai berikut:[19][19]
73
|
70
|
68
|
68
|
67
|
67
|
65
|
65
|
63
|
62
|
60
|
59
|
59
|
58
|
58
|
56
|
52
|
50
|
41
|
40
|
Skor mentah itu akan diolah menjadi
nilai huruf A, B, C, D, TL dengan menggunakan M dan DS. Untuk itu kita membuat
tabel sebagai berikut:
Langkah-langkah
menyusun tabel:
1)
Masukkan
nama siswa (ke dalam kolom 1) dan skor masing-masing siswa (ke dalam kolom 2),
kemudian jumlahkan. Kita akan memperoleh .
2)
Hitunglah mean
(M) dengan membagi jumlah skor itu ( ) dengan N
(banyaknya siswa yang dites). Jadi rumus untuk mencari M itu adalah: M =
3)
Isilah kolom
3 dengan selisih (deviasi) tiap-tiap skor dari mean (X-M)
4)
Isilah kolom
4 dengan menguadratkan angka-angka dari kolom 3. Kemudian jumlahkan sehingga
kita peroleh
5)
Langkah
terakhir adalah menghitung mean dan DS dengan rumus-rumus sebagai
berikut:
M = dan DS =
Tabel untuk
menghitung Mean dan DS
Nama
Siswa
|
Skor
Mentah (X)
|
(X - M)
atau (d)
|
atau
|
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
Amrin
|
73
|
13
|
169
|
|
Dahron
|
70
|
10
|
100
|
|
Mardi
|
68
|
8
|
64
|
|
Popon
|
68
|
8
|
64
|
|
Jamilah
|
67
|
7
|
49
|
|
Sarman
|
67
|
7
|
49
|
|
Ronald
|
65
|
5
|
25
|
|
Nursam
|
65
|
5
|
25
|
|
Marnah
|
63
|
3
|
9
|
|
Kamerun
|
62
|
2
|
4
|
|
Djufri
|
60
|
0
|
0
|
|
Rajiman
|
59
|
-1
|
1
|
|
Jugil
|
59
|
-1
|
1
|
|
Bonteng
|
58
|
-2
|
4
|
|
Pairah
|
58
|
-2
|
4
|
|
Gurita
|
56
|
-4
|
16
|
|
Marlopo
|
52
|
-8
|
64
|
|
Karmin
|
50
|
-10
|
100
|
|
Nirmala
|
41
|
-19
|
361
|
|
Brutal
|
40
|
-20
|
400
|
|
Jumlah
|
1201 ( )
|
1509
|
||
Dari tabel itu kemudian dicari mean
dan DS dengan rumus sebagai berikut:
M = = = 60,05
dibulatkan = 60
DS = = = = 8,69
Dari
perhitungan dalam tabel di atas kita telah memperoleh mean (M) = 60 dan
DS = 8,69. Selanjutnya kita dapat menjabarkan skor-skor mentah yang kita
peroleh itu ke dalam nilai huruf melalui langkah-langkah sebagai berikut:
1)
Pertama-tama
kita menentukan besarnya Skala Unit Deviasi (SUD). Misalnya dalam penjabaran
ini kita akan menggunakan seluruh jarak range dari kurva normal, yaitu
antara -3 DS s.d. + 3 DS = 6 DS. Karena nilai huruf yang akan digunakan adalah
A – B – C – D – E – TL yang berarti = 4 unit, dan kita tentukan besarnya SUD =
6 DS : 4 = 1,5 DS. Jadi, SUD = 1,5 x
8,69 = 13,035, dibulatkan = 13.
2)
Titik tengah
nilai C terletak pada mean = 60 karena C merupakan nilai tengah pada
skala penilaian A - B – C – D – TL.
3)
Langkah
selanjutnya kita menentukan batas bawah (lower limit) dan batas atas (upper
limit) dari masing-masing nilai huruf.
-
Karena titik
tengah C = M = 60, maka
-
Batas bawah
C = M – 0,5 SUD
60 - (0,5 x 13) = 53,5
-
Batas atas C
= M + 0,5 SUD
60 + (0,5 x 13) = 66,5
-
Batas bawah
D = M – 1,5 SUD
60 – (1,5 x 13) = 34
-
Skor di
bawah 34 = TL
-
Batas atas B
= M + 1,5 SUD
60 + (1,5 x 13) = 79,5
-
Skor di atas
79, 5 = A
4)
Selanjutnya
kita mentransfer skor-skor mentah dari 20 siswa tersebut ke dalam niali huruf
sebagai berikut:
-
Skor 80 ke
atas = A = Tidak ada
-
Skor 67 s.d
79,5 = B = 6 Orang
-
Skor 54 s.d
66,5 = C = 10 Orang
-
Skor 34 s.d
53,5 = D = 4 orang
-
Skor di
bawah 34 = TL = Tidak ada
Dengan cara
penjabaran seperti di atas, ternyata hasilnya lebih baik dalam arti banyak yang
lulus meskipun hanya memperoleh nilai D. Hal ini dimungkinkan karena dalam
penjabaran tersebut kita menggunakan seluruh range dari kurva normal,
yaitu dari -3 DS s.d. +3 DS.
b.
Mengolah
Skor Mentah Menjadi Nilai Huruf dengan Batas Lulus = Mean
Misalkan
seorang guru memperoleh skor dari hasil ujian semester dari 50 siswa sebagai
berikut:[20][20]
97
|
93
|
92
|
90
|
87
|
86
|
86
|
83
|
81
|
80
|
80
|
78
|
76
|
76
|
75
|
74
|
73
|
72
|
72
|
71
|
69
|
67
|
67
|
67
|
64
|
63
|
63
|
62
|
62
|
60
|
58
|
57
|
57
|
56
|
56
|
54
|
52
|
50
|
47
|
45
|
43
|
39
|
36
|
36
|
32
|
29
|
27
|
26
|
20
|
16
|
Skor mentah
ini akan kita olah menjadi nilai huruf A, B, C, D, dan TL. Untuk mencari mean
dan DS kita susun skor mentah tersebut ke dalam tabel frekuensi, kita cari
dulu range untuk menentukan besarnya interval dan kelas interval.
Range =
97 – 16 = 81
Kelas interval = +
1 =
+ 1 = 9
Jadi, dengan menentukan besarnya
interval = 10, kita peroleh kelas interval = 9.
Tabel
Distribusi Frekuensi
Kelas
|
Interval
|
f
|
d
|
fd
|
||
1
|
96 – 105
|
1
|
+4
|
+4
|
16
|
|
2
|
86 – 95
|
6
|
+3
|
+18
|
54
|
|
3
|
76 - 85
|
7
|
+2
|
+14
|
28
|
|
4
|
66 - 75
|
10
|
+1
|
+10
|
10
|
|
5
|
56 - 65
|
11
|
0
|
0
|
0
|
|
6
|
46 - 55
|
4
|
-1
|
-4
|
4
|
|
7
|
36 - 45
|
5
|
-2
|
-10
|
20
|
|
8
|
26 - 35
|
3
|
-3
|
-9
|
27
|
|
9
|
16 - 25
|
3
|
-4
|
-12
|
48
|
|
50 (N)
|
+11 ( )
|
207 ( )
|
||||
Dari tabel ini, kita cari mean
dengan rumus:
M = M’ + i ( )
M =
mean sebenarnya yang akan dicari
M’ =
mean dugaan dalam tabel itu
=
= = 60,5
i =
inteval = 10
= jumlah dari kolom fd = +11
Dengan rumus tersebut di
atas maka:
Mean (M) = 60,5
+ 10 ( ) = 60,5 +
=
60,5 + 2,2 = 62,7, dibulatkan menjadi 63
Cara mencari deviasi standar (DS) ialah dnegan rumus:
DS = i
Dari tabel di atas kita dapat
menghitung DS sebagai berikut:
DS = 10
=
10
=
10
=
10 x 1,9 = 19
Selanjutnya jika kita akan mengubah
skor mentah yang diperoleh menjadi nilai huruf A, B, C, D, dan TL dengan batas
lulus = mean. Caranya adalah sebagai berikut:
Telah ditentukan bahwa batas lulus =
mean = 63. Jadi, skor mentah dari 63 ke atas kita bagi menjadi nilai
huruf A, B, C, D dan skor di bawah 63 dinyatakan TL. Perhatikan gambar berikut:
-2
|
-1
|
0
|
+1
|
+2
|
+3
|
D
|
C
|
B
|
A
|
TL
|
-3
|
M
|
2,25
|
1,5
|
0,75
|
-
Batas bawah
D atau batas lulus = mean = 63
-
Skor di
bawah 63 = TL
-
Batas atas D
= M + 1 SUD = M + 0,75 DS
= 63 + 14,25 = 77 (dibulatkan)
-
Batas atas C = M + 2 SUD = M + 1,5 DS
= 63 + 28,5 = 92 (dibulatkan)
-
Batas atas B = M + 3 SUD = M + 2,25 DS
= 63 + 42,75 = 106 (dibulatkan)
-
Skor di atas
106 = A
Dengan
perhitungan tersebut, maka hasil kelulusan dari 50 siswa adalah sebagai
berikut:
Yang tidak lulus (TL), skor di bawah
63 = 23 orang
Yang mendapat nilai D, skor 63 – 77 = 15 orang
Yang mendapat nilai C, skor 78 – 92 = 10 orang
Yang mendapat nilai B, skor 93 – 106 = 2 orang
Yang
mendapat nilai A, akor di atas 106 =
tidak ada
Jika dibandingkan dengan cara
penjabaran terdahulu, maka cara yang terakhir ini ternyata lebih mahal. Dari 50
orang siswa yang ujian, ternyata sebanyak 23 orang tidak lulus (hampir 50%).
c.
Mengolah
Skor Mentah Menjadi Nilai Huruf dengan Menggunakan Mean Ideal dan DS Ideal
Misalkan
jika skor maksimum ideal dari tes yang diberikan kepada 50 siswa tersebut =
120, maka:
mean ideal = ½ x skor
maksimum ideal = 60
DS ideal vdari tes tersebut = x 60 = 20
Dengan cara menjabarkan yang telah diuraikan
sebelumnya, yakni dengan ketentuan batas lulus = mean, dan dengan
demikian, 1 SUD = 0,75 DS, kita peroleh perhitungan sebagai berikut:
-
Batas bawah
D atau batas lulus = mean = 60
-
Skor di
bawah 60 = TL
-
Batas atas D
= M + 1 SUD = M + 0,75 DS
= 60 + (0,75 x 20) = 60 + 15 = 75
-
Batas atas C = M + 2 SUD = M + 1,5 DS
= 60 + (1,5 x 20) = 60 + 30 = 90
-
Batas atas B = M + 3 SUD = M + 2,25 DS
= 60 + (2,25 x 20) = 60 + 45 = 105
-
Skor di atas
105 = A
Dengan perhitungan tersebut, maka hasil kelulusan dari
50 siswa adalah:
Yang tidak lulus (TL), skor di bawah
60 = 20 orang
Yang mendapat nilai D, skor 60 - 75 = 16 orang
Yang mendapat nilai C, skor 76 - 90 = 11 orang
Yang mendapat nilai B, skor 91 – 105 = 3 orang
Yang mendapat nilai A, akor di atas
105 = tidak ada
Jika
dibandingkan dengan hasil perhitungan sebelumnya, ternyata hasil kelulusan
berimbang atau hampir sama. Yang tidak lulus hanya selisih 3 orang, yang
kedua-duanya tidak ada yang memperoleh nilai A. Hal ini antara lain adalah
karena skor maksimum ideal dari tes yang diolah adalah 120, sedangkan nilai
maksimum aktual (nilai tertinggi dari kelompok yang dites) adalah 97, yang
berarti masih jauh di bawah nilai maksimum ideal 120. Akan tetapi, jika nilai
maksimum ideal dari tees itu 100 misalnya, maka mean ideal = 50 dan DS ideal = 16,7, dibulatkan menjadi 17.
Dengan demikian, mungkin ada beberapa orang yang memperoleh nilai A, dan yang
tidak lulus pun jumlahnya berkurang.[21][21]
2.
Mengolah
Skor Mentah Menjadi Nilai 1 – 10
Umpamakan
seorang guru memperoleh skor mentah dari hasil ulangan sejarah di kelas III SMP
yang berjumlah 50 orang siswa sebagai berikut:
16
|
64
|
87
|
36
|
65
|
42
|
43
|
54
|
47
|
51
|
77
|
55
|
68
|
42
|
40
|
47
|
42
|
46
|
45
|
50
|
20
|
57
|
28
|
7
|
44
|
51
|
40
|
39
|
39
|
57
|
28
|
39
|
21
|
48
|
46
|
37
|
41
|
43
|
49
|
71
|
29
|
44
|
34
|
50
|
45
|
35
|
44
|
52
|
56
|
45
|
Untuk
mengolah skor mentah di atas menjadi nilai 1-10, kita perlu mencari mean
(angka rata-rata) dan DS. Untuk itu skor mentah tersebut kita susun ke dalam
tabel distribusi frekuensi. Langkah-langkah menyusunnya adalah sebagai berikut:
a.
Kita
tentukan dulu banyaknya kelas interval dengan jalan:
-
Mencari range
(R), dengan mengurangi skor maksimum dengan skor minimum (range =
selisih antara skor maksimum dan skor minimum)
-
Bagilah range
ke dalam interval-interval yang sama sedemikian rupa sehingga jumlah kelas
interval antara 6 – 15 atau 11 – 19.
Rumus untuk mencari kelas interval: +1
b.
Mengisi
kolom 2 (kolom interval) di dalam tabel yang telah tersedia. Mulailah dari skor
minimum berturut-turut dengan interval yang telah ditemukan dan sejumlah kelas
yang telah ditentukan pada langkah pertama
c.
Membuat tally
pada kolom 3 (menabulasikan tiap-tiap skor ke dalam kelasnya).
d.
Mengisi
angka (jumlah) tally ke dalam kolom 4 (f)
e.
Menentukan
deviasi pada lajur d dengan menetapkan letak mean dugaan (M’) dengan
angka nol pada kelas tertentu. Untuk menduga letak nol tersebut dapat kita
pilih kelas yang mengandung frekuensi yang paling tinggi. Selanjutnya kita
letakkan angka-angka deviasi itu dari nol ke atas dan ke bawah. Angka-angka di
atas nol kita beri tanda + (plus) dan angka-angka di bawah nol diberi tanda –
(minus)
f.
Mengisi
lajur fd dengan mengalikan angka-angka pada lajur f dan d. Kemudian hasilnya
dijumlahkan pada bagian bawah dari tabel (= fd). Sampai pada kolom 6 (fd) kita
telah dapat menghitung besarnya mean yang sebenarnya dari tabel tersebut.
Akan tetapi, karena kita masih memerlukan mencari DS (deviasi standar), kita
perlu menambah satu kolom lagi untuk mencari .
g.
Mengisi lajur , kemudian dijumlahkan pula pada bagian bawah dari tabel
sehingga kita peroleh yang diperlukan
dalam rumus untuk mencari DS.
Dari skor mentah hasil ulangan tersebut, kita dapat menyusun tabel
distribusi frekuensi seperti berikut:
Skor maksimum = 87
Skor minimum = 7
Range = 87 – 7 = 80
Banyaknya kelas interval:
+ 1 =
+ 1 = 11
Jadi, interval (i) = 8, kelas
interval = 11
Tabel
Distribusi Frekuensi
Kelas
|
Interval
|
Tally
|
f
|
d
|
fd
|
||
1
|
87 - 94
|
I
|
1
|
+6
|
6
|
36
|
|
2
|
79 - 86
|
0
|
+5
|
0
|
0
|
||
3
|
71 - 78
|
II
|
2
|
+4
|
8
|
32
|
|
4
|
63 - 70
|
III
|
3
|
+3
|
9
|
27
|
|
5
|
55 - 62
|
IIII
|
4
|
+2
|
8
|
16
|
|
6
|
47 - 54
|
IIII
IIII I
|
11
|
+1
|
11
|
11
|
|
7
|
39 - 46
|
IIII
IIII IIII III
|
18
|
0
|
0
|
0
|
|
8
|
31 - 38
|
IIII
|
4
|
-1
|
-4
|
4
|
|
9
|
23 - 30
|
III
|
3
|
-2
|
-6
|
12
|
|
10
|
15 - 22
|
III
|
3
|
-4
|
-9
|
27
|
|
11
|
7 - 14
|
I
|
1
|
-4
|
-4
|
16
|
|
N
= 50
|
+19 ( )
|
181 ( )
|
|||||
Sekarang kita cari angka rata-rata (mean)
dari tabel di atas:
Rumus mean M = M’ + i ( )
Dengan melihat pada tabel distribusi
frekuensi maka:
M = 42,5 + 8 ( ) = 42,5 + 3,04 = 45,54
Mean dugaan (M’)
sebesar 42,5 adalah nilai titik tengah dari kelas interval 39 – 46, yaitu kelas
interval yang kita duga sebagai tempat letaknya mean. Cara menghitung:
M’ = =
= 42,5
Dari tabel itu, sekarang kita mencai
DS.
Rumusnya: DS = i
Dengan menggunakan rumus tersebut
maka:
DS =
8
=
8
=
8
=
8 x 1,89 = 15,12 dibulatkan = 15
Setelah kita
temukan besarnya mean dan DS, (mean = 45,54 dan DS = 15), langkah
selanjutnya ialah menjabarkan skor mentah yang kita peroleh ke dalam nilai 1 –
10 dengan menggunakan rumus penjabaran sebagai berikut:
M - 0,25
DS = 5
M - 0,75
DS = 4
M - 1,25
DS = 3
M - 1,75
DS = 2
M - 2,25
DS = 1
|
Rumus
Penjabaran
M + 2,25 DS = 10
M + 1,75 DS = 9
M + 1,25 DS = 8
M + 0,75 DS = 7
M + 0,25 DS = 6
Penjabarannya
79 ke atas = 10
72 s.d. 78 = 9
64 s.d. 71 = 8
57 s.d. 63 = 7
49 s.d. 56 = 6
42 s.d. 48 = 5
|
Hasil
Perhitungan
45,54 + (2,25 x 15) = 79,29 dibulatkan = 79
45,54 + (1,75 x 15) = 71,79 dibulatkan = 72
45,54 + (1,25 x 15) = 64,29 dibulatkan = 64
45,54 + (0,75 x 15) = 56.79 dibulatkan = 57
45,54 + (0,25 x 15) = 49,29 dibulatkan = 49
45,54 - (0,25 x 15) = 41,79 dibulatkan = 42
34 s.d. 41 = 4
27 s.d. 33 = 3
19 s.d. 26 = 2
12 s.d. 18 = 1
11 ke
bawah = 0
|
45,54 -
(0,75 x 15) = 34,29 dibulatkan = 34
45,54 - (1,25 x 15) = 26,79 dibulatkan = 27
45,54 - (1,75 x 15) = 19,29 dibulatkan = 19
45,54 - (2,25 x 15) = 11,79 dibulatkan = 12
Kebaikan
sistem penskoran seperti ini ialah bahwa nilai-nilai yang diperoleh siswa
benar-benar mencerminkan kapasitas kelompok (disesuaikan dengan kondisi atau
tingkat kepandaian kelompok yang bersangkutan).
Akan tetapi,
kelemahannya ialah bahwa nilai-nilai yang diperoleh sistem tersebut belum
mencerminkan sampai dimana pencapaian scope bahan pelajaran yang
diteskan. Oleh karena itu, untuk mengurangi kelemahan ini kita juga melakukan
sistem penskoran dengan menggunakan mean ideal dan DS ideal.
Caranya adalah sebagai berikut:
Misalkan tes
yang dipergunakan untuk ulangan sejarah di atas memiliki skor maksimum ideal =
100.
Mean ideal = = = 50
DS ideal = = = 16,6
Dengan
menggunakan rumus penjabaran tersebut, maka:
50 +
(2,25 x 16,6) = 87,35 dibulatkan =
87 ® 10
50 +
(1,75 x 16,6) = 79,05 dibulatkan =
79 ® 9
50 +
(1,25 x 16,6) = 70,75 dibulatkan =
71 ® 8
50 +
(0,75 x 16,6) = 62,45 dibulatkan =
62 ® 7
50 +
(0,25 x 16,6) = 54,15 dibulatkan =
54® 6
50 -
(0,25 x 16,6) = 45,85 dibulatkan =
46 ® 5
50 -
(0,75 x 16,6) = 37,55 dibulatkan =
38 ® 4
50 -
(1,25 x 16,6) = 29,25 dibulatkan =
29 ® 3
50 -
(1,75 x 16,6) = 20,95 dibulatkan =
21 ® 2
50 -
(2,25 x 16,6) = 12,65 dibulatkan =
13 ® 1
Dengan menggunakan mean ideal dan DS ideal, ternyata hasilnya
berlainan. Siswa yang mendapat nilai 10 adalah siswa yang memperoleh skor
mentah 87 ke atas, dan bukan 79 ke atas seperti hasil perhitungan menggunakan
mean dan DS aktual. Juga yang mendapat nilai 6 adalah siswa yang memperoleh
skor mentah 54 s.d. 61, bukan 49 s.d. 56.[22][22]
3.
Mengolah
Skor Mentah Menjadi Nilai dengan Persen
Yakni besarnya nilai yang diperoleh
siswa merupakan persentase dari skor maksimum ideal yang seharusnya dicapai
jika tes tersebut dikerjaan dengan hasil 100% betul.
Rumus penilaian adalah sebagai
berikut: NP =
Keterangan:
MP =
nilai persen yang dicari atau diharapkan
R =
skor mentah yang diperoleh siswa
SM =
skor maksimum ideal dari tes yang bersangkutan
100 =
bilangan tetap
Beberapa contoh sebagai penjelasan:
-
Siswa A
memperoleh skor 64 dari tes matematika yang memiliki skor maksimum ideal = 80
Maka nilai A yang sebenarnya adalah x 100 = 80
-
Siswa B
memperoleh skor 64 dari tes bahasa indonesia yang memiliki skor maksimum ideal
= 100. Maka nilai B = 64
Cara menilai
dengan persen sering dilakukan oleh guru-guru, hal ini karena dianggap lebih
mudah dan praktis.[23][23]
4.
Mengolah
Skor Mentah Menjadi Skor Standar z
Yang
dimaksud dengan skor z adalah skor yang penjabarannya didasarkan atas unit
deviasi standar dari mean. Dalam hal ini mean dinyatakan = 0 (nol). Oleh karena itu, dnegan
penjabaran skor-skor mentah menjadi skor standar z kita dapat melihat bagaimana
kedudukan skor tersebut dibandingkan dengan rata-rata skor kelompoknya.
Misalkan hasil tes umar sebagai berikut:
Bahasa Indonesia = 65
Matematika = 55
IPS =
70
Dengan
melihat sepintas, kita beranggapan bahwa Umar cukup dalam Bahasa Indonesia,
kurang dalam Matematika, dan cukup baik dalam IPS. Untuk mengetahui kecakapan
Umar sebenarnya dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya, kita perlu
mengetahui besarnya mean dan DS dari tiap mata pelajaran, misalkan
sebagai berikut:
Mata Pelajaran
|
Skor
|
Mean
|
DS
|
Bahasa Indonesia
|
65
|
60
|
4.0
|
Matematika
|
55
|
45
|
4.0
|
IPS
|
70
|
75
|
5.0
|
Dengan
membandingkan skor yang dicapai Umar dengan mean nya masing-masing,
sepintas kita lihat bahwa Umar bukan sangat pandai dalam IPS, malah ia lebih
baik dalam matematika dan bahasa indonesia. Dengan menggunakan mean dan
DS itu kita dapat mengubah skor-skor yang diperoleh Umar menjadi skor z.
Rumusnya: Skor z =
Dengan menggunakan rumus tersebut,
kita dapat mengubah skor yang dicapai Umar ke dalam skor z sebagai berikut:
Bahasan Indonesia = = = +1,25
Matematika = = = +2,5
IPS =
= = - 1,0
Melihat
hasil skor z di atas kita dapat mengetahui bahwa Umar dalam bahasa indonesia
adalah 1,25 DS di atas mean, untuk matematika 2,5 DS di atas mean,
sedangkan untuk IPS 1,0 DS di bawah mean.[24][24]
5.
Mengolah
Skor Mentah Menjadi Skor Standar T
Yang
dimaksud dengan skor T ialah angka skala yang menggunakan dasar mean =
50 dan jarak tiap deviasi standar (DS) = 10. Di dalam range -3 DS sampai
dengan +3 DS, T tersebar dari 20 s.d. 80, tanpa bilangan –bilangan minus.
Suatu
panitia ujian sekolah misalnya, dapat menentukan “batas lulus” dari berbagai
mata pelajaran dengan kedudukan nilai skor yang sama setelah setiap skor dari
mata pelajaran tersebut dijabarkan ke dalam skor T.
Rumusnya: Skor T = ( ) 10 + 50 atau
Skor
T = 10 Z + 50
Jika
skor-skor yang diperoleh Umar tadi kita jabarkan ke dalam skor T, akan kita
peroleh sebagai berikut:
Bahasa Indonesia = ( ) x 10 + 50
= (+1,25) x 10 + 50 = 62,5
Matematika = ( ) x 10 + 50 = (+2,5) x 10 + 50 = 75,0
IPS =
( ) x 10 + 50 = (-1,0) x 10 + 50 = 40,0
Dengan
melihat hasil penjabaran ke dalam skor T di atas, secara cepat kita dapat
mengatakan bahwa Umar memiliki prestasi yang cukup baik dalam matematika
dibandingkan dengan teman sekelompoknya, dan kurang baik prestasinya dalam IPS.[25][25]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Nilai pada dasarnya melambangkan
penghargaan yang diberikan oleh tester kepada testee atas jawaban betul yang
diberikan oleh testee dalam tes hasil belajar. Artinya makin banyak jumlah
butir soal dapat dijawab dengan betul, maka penghargaan yang diberikan oleh
tester kepada testee akan semakin tinggi. sebaliknya, jika jumlah butir item
yang dapat dijawab dengan betul itu hanya sedikit, maka penghargaan yang
diberikan kepada testee juga kecil atau rendah.
Tes hasil
belajar dapat diselenggarakan secara tertulis (tes tertulis), secara lisan (tes lisan) dan dengan tes
perbuatan. Adanya perbedaan pelaksanaan tes hasil belajar tersebut menuntut
adanya perbedaan dalam pemeriksaan, pemberian skor, dan pengolahan hasil-hasilnya.
Teknik
pengolahan hasil tes hasil belajar dapat dilakukan dengan beberapa cara, yakni:
mengolah skor mentah menjadi nilai huruf, mengolah skor mentah menjadi nilai 1
– 10, mengolah skor mentah menjadi nilai dengan persen, mengolah skor mentah
menjadi skor standar z, dan mengolah skor mentah menjadi skor standar T.
[1][1]Anas
Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Rajawali Pers, 2009),
h. 289.
[2][2]Ibid.,
h. 290-292.
[3][3]Ibid.,
h. 292-295.
[4][4]Mushtar
Buchori, Teknik-teknik Evaluasi dalam Pendidikan (Bandung: Jemmars,
1990), h. 220.
[5][5]Anas
Sudijono, Pengantar, h. 297-298.
[6][6]Ibid.,
h. 298-299.
[7][7]Ngalim
Purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 1994), h. 70.
[8][8]Zainal
Arifin, Evaluasi Pembelajaran (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009), h.
225-226.
[9][9]Ibid.,
h. 228.
[10][10]Ibid.,
228-229.
[11][11]Suharsimi
Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: BT Bumi Aksara,
2009), h. 229-230.
[12][12]Ibid.,
h. 230-232.
[13][13]Ibid.,
h. 234-235.
[14][14]Anas
Sudijono, Pengantar, h. 309.
[15][15]Anas
Sudijono, Pengantar, h. 311.
[16][16]Ngalim
Purwanto, Prinsip-prinsip, h. 76.
[17][17]Ibid.,
h. 77.
[18][18]Ibid.,
h. 88.
[19][19]Ibid.,
h. 89-92.
[20][20]Ibid.,
h. 92-95.
[21][21]Ibid.,
h. 95-96.
[22][22]Ibid.,
h. 97-101.
[23][23]Ibid.,
h. 102.
[24][24]Ibid.,
h. 103-104.
[25][25]Ibid.,
h. 106.
A Guide to Live Dealer Casinos
BalasHapusWhile most casinos don't allow for live dealer games, many live 온라인바카라 casino games are live. There 배팅 사이트 are 토토랜드같은사이트 a few that allow for live dealer 바카라양방 games, such as Blackjack, Roulette 토토 꽁 머니 사이트 and